Aku masih duduk dibangku SR (Sekolah Rakyat) kelas 2 saat kemerdekaan ini datang. Setiap orang meneriakkan “Merdeka – Merdeka – Merdeka” . Kalau bertemu sebagai salam adalah “Merdeka”. Setiap orang sibuk, pengambilan dan pengalihan kekuasaan dari tangan Jepang yang telah berkuasa 3 ½ tahun. Kekuasaan Jepang saudara tua tersebut telah selesai. Kita tak mendengar kata “Bagero” atau bertaiso tiap pagi lagi. Tapi rupanya kekalahan Jepang tsb. dimanfaatkan oleh tentara Belanda yang membonceng dengan Sekutu yang ingin kembali mengambil Negara jajahannya yang diambil oleh Japang. Belanda dan orang-orang yang pro Belanda disebut NICA juga sibuk untuk kembali berkuasa. Mereka sekarang berhadapan dengan pemuda-pemuda yang sadar akan kemerdekaan tsb. Kalaulah terlambat saja sedikit Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan ini tentu sejarah akan berbeda. Kita tentu masih dibawah naungan Ratu Wilhemina dan Juliana dan lebih seperdua dari penduduk Indonesia yang 70 juta tsb. masih buta huruf.
Jepang membawa angin segar semua orang belajar Katakana dan Hirokana semua orang Indonesia belajar bahasa Jepang. Jepang ingin menJepangkan Indonsia. Budak-budak dan para pekerja paksa dibawa dari Indonesia. Penduduk kelaparan makan ubi dan jagung. Sekolah tetap sama seperti dizaman Belanda dan didesaku yang ada hanya SR 3 tahun. Kalau ungin melanjutkan harus jalan kaki 6 km kenegeri tetangganya. SR disini hanya sampai kelas 5. Sudah itu boleh menyambung kesekolah agama pesantren dan ujung-ujungnya menjadi pemimpin agama atau ulama. Sebelum kemerdekaan 1945 belum ada orang kampungku yang menjadi guru, menteri kesehatan apalagi profesi yang lain.
Kemerdekaan membawa perubahan dalam pendidikan. Muncullah nama-nama Mesteer Maria Ulfah Santoso wanita pertama dijajaran kabinet Sukarno. Ada Mesteer Laily Rusyad yang menjadi perwakilan RI di PBB. Maria Ulfah Santoso inilah wanita pertama menjadi idolaku. Aku ingin bersekolah tinggi. Perubahan yang paling terasa SR 3 tahun dikampungku dijadikan SD 6 tahun. MULO yang di Payakumbuh dijadikan SMP Negeri Payakumbuh yang satu-satunya di Luhak 50 Koto. Kalau dulu MULO tsb. hanya menerima tamatan HIS (sekolah dasar Belanda) sekarang dapat menerima anak-anak orang biasa dari semua SD melalui ujian.
Guru-guru dibutuhkkan banyak untuk memenuhi kebutuhan Sekolah Dasar 3 tahun yang menjadi 6 tahun. Ada kurus KGC (Kursus Guru Cepat) 3 bulan dan 6 bulan. Dua orang kakakku masuk KGC dan mereka berdualah yang menjadi pionir memajukan SD dikampungku. Mata pelajaran tidak sebanyak sekarang kalau tidak salah hanya Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Indonesia. Karena aku jagoan Berhitung maka dikelas 5 aku diizinkan untuk ikut ujian masuk SMP dan hasilnya mencengangkan. Aku menjadi satu-satunya wanita dari kampungku yang ikut ujian tsb.
1949
Seorang gadis kecil berumur 10 tahun berjalan cepat sambil berlari-lari kecil melangkahi pohon-pohon kelapa yang melintangi jalan raya. Pohon-pohon kelapa itu sengaja ditebang dan diletakkan melintang dijalan raya oleh para gerilya dan penduduk yang tidak ingin dijajah Belanda kembali. Tiap hari gadis kecil tersebut menempuh jarak 10 km dan pulang sorenya kedesanya lagi. SMP yang ada adalah SMP Darurat yang jaraknya dengan kampungku 10 km. Kujalani pulang pergi tiap hari tersebut beberapa bulan tanpa alas kaki. KMB (Konperensi Meja Bundar) menghentikan perjalanan pulang pergi ke SMP Darurat tersebut.

1950
Belanda terpaksa angkat kaki dari Indonesia berikut semua pengikutnya. Semua murid-murid dari SMP Darurat diterima di SMP Negeri dan karena Payakumbuh terlalu jauh diadakan filial SMP Payakumbuh di Dangung2 yang berjarak 10 km dari kampungku. Karena negeri telah aman maka aku tinggal menetap menompang dirumah salah seorang teman sekolahku.Dengan membawa bekal beras dan goreng-gorengan (biasanya goreng ubi dan maco atau ikan) aku tinggal mondok dari Senin pagi sampai Sabtu siang. Kami tak ada yang pakai alas kaki. Begitulah kujalani sampai kelas 2 SMP dan dikelas 3 kami pindah ke SMP Negeri Payakumbuh. Aku naik kelas 3 B dan aku masuk kelas 3 B2. Pemisahan Ilmu Pasti Alam dan Sosial telah diadakan dikelas 3 SMP. Di Payakumbuh masih memasak sendiri sedangkan bekal dikirim dari kampun pakai pedati. Aku masih memasak pakai kayu yang dicari dikebun-kebun dekat rumah tempat tinggalku. Beberapa kali pindah rumah tanpa bantuan orang tua. Tidak membawa kasur dan tempat tidur cukup tikar, bantal, dan selimut belacu. Ada 8 kelas SMP kelas tiga dan yang lulus hanya kira-kira 100 orang. Jadilah aku dikeluargaku yang menyelesaikan SMP. Sekolah yang menampung hanya tidak banyak di Sumatra Tengah yaitu:
SMA Negeri Bukittinggi, SMA Negeri Padang ,SGA Negeri Padang Panjang , SGA Negeri Padang , SGTK Padang, SGKP. Padang, SMEA Padang, SPMA Padang, STM Padang, KGB (1 tahun) di Payakumbuh.
Aku tidak diterima atau tidak berniat untuk masuk kesekolah-sekolah tersebut diatas. Aku menginginkan sekolah yang berikatan dinas. Disamping dapat uang saku kita juga tidak susah-susah mencari kerja. Syukur Alhamulillah waktu Menteri Pendidikan Prof. Moh. Yamin dibuka tahun 1952 SGA Negeri Payakumbuh dan aku menjadi murid pertama. Begitulah kujalani 3 tahun di SGA Negeri Payakumbuh dengan uang ikatan dinas sambil berhemat aku tsuah dapat mandiri. Bayangkan diumurku yang ke 13 aku sudah punya penghasilan sendiri. Pada bulan Maret 1954 buyaku meninggal dunia dan mulailah kehidupan kami seperti apa adanya dan ditempa berjuang untuk meneruskan kehidupan.
Jadi kesimpulanku:
Kalau tak ada kemerdekaan apa yang kuperoleh sekarang tidak ada. Terima kasih untuk kedua orangtuaku, guru-guruku, Presiden Soekarno dan Hatta yang memproklamirkan kemerdekaan dan syukur kehadirat Allah SWT yang membuat segalanya mungkin. Alhamdulillah
Singapore 17 Agustus 2010
Hayatun Nismah Rumzy